PROFIL BIROE

Foto saya
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Memiliki attitude negatif akan selalu membuat kita berpikir, "I can't do it" Sedangkan dengan attitude positif cenderung membuat kita berpikir, “I'm sure, I can do it” ...

KOMUNITAS BIROE

TRANSLATE BIROE

English French German Spain

Italian Dutch Russian Brazil

Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

VALUATION BIROE

BUKU TAMU BIROE

Salam kenal, jangan lupa tinggalkan pesan dan kesan ya!

WAKTU BIROE

REPUBLIK BIROE

Indonesian Freebie Web and Graphic Designer Resources

GUIDE BIROE

Bloggers' Rights at EFF

STATISTIK TAYANGAN BIROE

SELAMATKAN TERUMBU KARANG

Negara kepulauan Indonesia, yang terletak di garis tengah katulistiwa, merupakan 14 persen luas terumbu karang dunia. Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Australia. Lagipula, Indonesia menjadi pusat segitiga terumbu karang dunia (the coral triangle). Ada enam negara dalam segitiga imajiner ini, yaitu Malaysia, Philipina, Timor Leste, Papua Nugini Indonesia dan Solomon Island.

Segitiga Terumbu Karang ini adalah pusat kehidupan laut yang memiliki keragaman jenis biota laut. Terumbu karang di kawasan ini 53 persen terumbu karang dunia. Di perairan Raja Ampat, Papua Barat, misalnya, terdapat lebih dari 600 spesies koral atau lebih dari 75 persen spesies yang dikenal di dunia.

Segitiga terumbu karang yang tersebar di perairan enam negara itu juga dihuni sekitar 3.000 spesies ikan, serta memiliki hutan mangrove paling luas di dunia. Segitiga terumbu karang juga menjadi tempat bertelur dan berkembang biaknya ikan tuna dalam jumlah terbesar di dunia. Tuna merupakan komoditas perikanan yang paling diminati di dunia.


Inilah alasan penting mengapa melindungi kelestarian terumbu karang di Indonesia perlu menjadi perhatian para Leader. Artinya, bila Indonesia gagal dalam pengelolaan terumbu karang akan mengakibatkan potensi hasil kelautan Indonesia sebesar lebih dari 1.6 juta dolar US tidak akan pernah bisa terwujud. Potensi kekayaan laut Indonesia terutama diperoleh dari perhitungan jumlah ikan tangkap yang merupakan nilai terbesar.

Meskipun fokus pembangunan belum tampak besar mengarah pada pemanfaatan potensi laut, bangsa ini tidak boleh lalai dalam pelestarian terumbu karang. Kelalaian mengakibatkan jutaan nelayan semakin sulit menangkap ikan. Bukan karena ikan ditangkapi dalam jumlah yang berlebihan tetapi karena populasi ikan
semakin menurun diakibatkan rusaknya koloni terumbu karang. Observasi yang dilakukan tahun 2003 menunjukkan bahwa kerusakan terumbu karang parah terjadi di Indonesia,  hanya tinggal 6,69% dalam kondisi sangat baik, kondisi baik 26,59%, buruk 37,56% dan sangat buruk 29,16%. Sangat menyedihkan. Bangsa besar yang wilayahnya  sebagian besar adalah laut ini dipandang belum mampu mengelola kelestarian terumbu karang.

Manfaat terumbu karang selain sebagai sumber kehidupan, juga bisa menjadi obyek wisata minat khusus yang sangat menarik. Para leader bisa menemukan keindahan terumbu karang dilaut Alor, Raja Ampat, Berau - Derawan, atau di kepulauan Nias dan Natuna. Jangan salah, masih banyak lagi daerah pantai di kepulauan-kepulauan Indonesia yang memiliki keindahan terumbu karang namun belum dikelola sebagai aset wisata.

Pentingnya menjaga kelestarian terumbu karang bukan sekedar perhatian pemerintah Indonesia. Namun juga menjadi perhatian dunia, karena kontribusi pengelolaan kelautan dengan cara yang benar akan turut membantu mereduksi percepatan global warming. Tentu saja ini sebuah inisiatif yang perlu ditindaklanjuti
dengan program nyata. Indonesia dengan bantuan World Bank dan Asia Development Bank, melalui Departemen Kelautan dan Perikanan telah menjalankan program konservasi dan pengelolaan terumbu karang secara sistematis sejak tahun 1998 dengan program yang disebut COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program).

Program ini menjadi penting tidak saja bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia karena inilah pertama kalinya program upaya pelestarian terumbu karang yang sangat komprehensif. Inisiatif program dilakukan sebanyak tiga tahap. Tahap pertama diselesaikan tahun 2004. Saat ini, COREMAP sudah sampai di tahap II.

Program COREMAP yang telah dijalankan secara komprehensif ini menuai hasil-hasil positif. Komprehensif, karena COREMAP terdiri dari tiga komponen yang berjalan secara paralel. Pertama adalah komponen CBM (community based management), yang pada fungsi pokoknya adalah pengelolaan kelestarian terumbu karang berbasis masyarakat sekitar. Kedua adalah penguatan kelembagaan, yang difokuskan pada terbentuknya kelembagaan di pemerintahan daerah agar mampu merespon kebutuhan masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang. Ketiga adalah komponen penyadaran publik (public awareness), yang difokuskan untuk membangun kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan terumbu karang secara masif-nasional.

Maka, peranan kita sangat dibutuhkan demi menjaga kelestarian terumbu karang.  

Sekarang!

Selamatkan Terumbu Karang,  sekarang... !
 

 

LUMBA-LUMBA BERBICARA SEPERTI MANUSIA

Beragam penelitian tentang lumba-lumba dilakukan mengingat satwa tersebut terkenal cerdas. Salah satu yang sebelumnya pernah didapatkan adalah lumba-lumba bisa bersiul. Siulan tersebut digunakan sebagai alat komunikasi antar individu, persis seperti manusia menggunakan bahasa. Namun, penelitian itu ternyata kurang tepat. Lumba-lumba bukan cuma bersiul, tetapi berbicara.

Ilmuwan mengatakan, suara lumba-lumba diproduksi dari vibrasi jaringan yang cara kerjanya hampir mirip dengan organ di kotak suara manusia dan beberapa hewan darat lain. Demikian simpulan Peter Madsen dari Department of Biological Science di Aarhus University, Denmark, setelah melakukan studi tentang cara lumba-lumba berkomunikasi.

Madsen menelaah data digital suara 12 ekor lumba-lumba hidung botol yang direkam pada tahun 1977. Dasar teori penelitian adalah, nada siulan dipengaruhi oleh frekuensi resonansi di saluran udara. Saat lumba-lumba menyelam, saluran udara termampatkan karena tekanan. Artinya, jika memang bersiul, semakin dalam menyelam, ketukan suara lumba- lumba yang dihasilkan akan makin tinggi.

Lumba-lumba juga bisa bersuara di medium udara dan heliox, campuran 80 persen helium dan 20 persen oksigen. Kecepatan suara di medium heliox 1,74 kali lebih tinggi dari udara sehingga jika siulan diproduksi, maka ketukan nadanya akan 1,74 kali lebih tinggi.

"Kami menemukan bahwa ketukan suara lumba-lumba tidak berubah saat memproduksi suara di medium heliox, artinya ketukan tidak ditentukan oleh ukuran saluran udaranya, yang berarti juga lumba-lumba tidak bersiul," urai Madsen.

Lebih lanjut, Madsen menjelaskan, lumba-lumba justru memproduksi suara dengan membuat jaringan ikat di hidung bergetar sesuai dengan frekuensi yang ingin diproduksi dengan menyesuaikan ketegangan otot dan aliran udara di jaringan tersebut. Ini cara yang sama yang digunakan manusia.

Lalu jika lumba-lumba bisa bicara, apa yang dibicarakan? Ilmuwan mengetahui bahwa lumba-lumba saling berbagi informasi tentang identitas mereka sehingga mampu membantu satu sama lain ketika mengarungi wilayah samudera yang luas.

Insinyur akustik John Stuart Reid dan Jack Kassewitz dari organisasi Speak Dolphin membuat instrumen disebut CymaScope yang bisa mengurai detail struktur suara lumba-lumba sehingga "arsitekturnya" bisa dipelajari. Kassewitz mengungkapkan, "Ada bukti kuat bahwa lumba-lumba bisa melihat dengan suara, seperti manusia memakai USG untuk melihat embrio dalam kandungan. CymaScope memberi peluang untuk mengetahui apa yang dilihat lumba-lumba lewat suara." 

INDONESIA TRAVEL FUN BIROE

WELCOME BIROE

Welcome Myspace Comments

FORUM DISKUSI CINTA LAUT

FORUM DISKUSI CINTA LAUT
Forkom Matabuka 2011

LOMBA BLOG - BLOGGER MUDA BIROE

Forkom Matabuka 2010

GEO BIROE

ENTRI POPULER BIROE

FOLLOWERS BIROE

SEA BIROE

Animated Pictures Myspace Comments